Minggu, 20 November 2016

Cintailah anak anak yatim

Bismillahirrahmanirrahim...

Assalamu alaikum warrahmatuallahi wabarrakatu..

         Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,, Allhamdulillah, kita masih diberi kenikmatan, kesehatan dan selalu diberikan kesempatan untuk saling berbagi..
      Kali ini saya akan membahas mengenai anak yatim, saya tertarik untuk lebih mengenal anak-anak yatim yang pernah saya kunjungi di daerah cerme bersama teman-teman saya. Ada salah satu teman saya yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, dia sangat menyayangi dan peduli dengan adik-adik yang pernah dia temui saat KKN di panti asuhan tersebut. Ini benar-benar mengguggah hatiku. 

ini dia teman-teman saya yang menemani berkunjung ke panti asuhan di cerme

       Pengalaman yang dialami oleh adik-adik tercinta di panti asuhan itu membuatku ingin merangkul mereka, membimbing, menyayangi mereka dan menganggap mereka seperti saudara saya sendiri. Meskipun saya tahu, tidak semua anak yatim penurut, ada juga yang bandel.
     Satu hal yang mungkin bisa ditarik kesimpulan : Tidak ada yang membimbing si anak dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Setiap kesalahan yang dilakukannya langsung diberi stempel oleh masyarakat bahwa dia "anak yatim yang nakal". Padahal dia juga butuh perhatian, kasih sayang yang tulus dan empati. Bukan hardikan bila kelihatan dia membuat kesalahan, sehingga dia merasa terpinggirkan karena tak seorangpun yang peduli. 

Apa sih pengertian anak yatim itu?? 

         Anak yatim adalah anak-anak yang kehilangan ayahnya karena meninggal sedang mereka belum mencapai usia baligh.

Batasan ini mencakup yatim yang masih ada hubungan kekerabatan dengan si pemeliharanya, ataupun dari orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Salim bin Id Al Hilali hafizhahullah ketika mengomentari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ الرَّاوِيُ وَهُوَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”.

Dan hadits dari Abu Umamah yang berbunyi :

عن أبى أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو فى الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه (رواه أحمد )

Dari Abu Umamah dari Nabi saw berkata: barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan  tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barang siapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia disurga seperti ini, beliau mensejajarkan dua jari-nya.

Secara psykologis, orang dewasa sekalipun apabila ditinggal ayah atau ibu kandungnya pastilah merasa tergoncang jiwanya, dia akan sedih karena kehilangan salah se-orang yang sangat dekat dalam hidupnya. Orang yang selama ini menyayanginya, memperhatikannya, menghibur dan menasehatinya.
 Itu orang yang dewasa, coba kita bayangkan kalau itu menimpa anak-anak yang masih kecil, anak yang belum baligh, belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan, bahkan belum mengerti baik dan buruk suatu perbuatan, tapi ditinggal pergi oleh Bapak atau Ibunya untuk selama-lamanya.

Betapa agungnya ajaran Islam, menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan  melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang hal ini.



Inginkah hatmu menjadi lembut dan damai? Rasulullah SAW memberi resep untuk itu. Nabi Bersabda,
''Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut dan damai dan Anda mencapai keinginanmu, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, hatimu akan tenang serta lembut dan keinginanmu akan tercapai. (HR Thabrani).

Hadis tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam bahwa salah satu sarana untuk menenangkan batin dan mendamaikan hati ini adalah mendekati anak yatim, terlebih yatim piatu. Mengusap kepala mereka dan memberinya makan minum merupakan simbol kepedulian dan perhatian serta tanggung jawab terhadap anak yatim/piatu.

Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka. Berbagai ayat Alquran dan hadis Nabi banyak membicarakan betapa mulianya kedudukan anak yatim/piatu di mata Allah SWT.
Semoga hal ini bisa membantu teman-teman sekalian agar lebih saling berbagi kasih, peduli terutama pada anak-anak yatim. Inshaallah apa yang kita lakukan tidak akan membuat kita rugi malah mententramkan hati kita agar lebih dekat dengan Allah SWT.

Wabillahitaufiq wal hidayah wa ridho wal inayah, Wassalamualaikum wr,wb

Sabtu, 19 November 2016

Assalamualaikum warahmatuallahi wabarrakatu..

Kali ini saya akan membahas tentang Jodoh.
“Apa sih jodoh itu,,?”
Jodoh adalah rahasia Allah, yang telah Dia tetapkan.
Dengan ketetapan Allah dan telah menjadi rahasia-Nya itu maka banyak pertanyaan yang timbul dari para jomblowan dan jomblowati, "Seperti apakah sih jodohku kelak?"

Allah SWT menetapkan 3 bentuk taqdir dalam masalah jodoh.
Pertama mereka yang dengan cepat bisa menemukan jodohnya.
Kedua mereka yang sedikit lebih lama dalam menemukan jodohnya, tapi suatu saat nanti akan dipertemukan di dunia.
Ketiga mereka yang akan mendapatkan jodoh tertunda sampai di akhirat kelak. 

“Lalu, jodoh itu dijemput atau ditunggu?’’  
Banyak orang yang lebih memilih menjemput, dan tidak sedikit juga yang lebih memilih menunggu terlebih bagi kaum hawa yang menunggu untuk dijemput sang pangeran. 
Bagi saya pribadi, dijemput atau ditunggu keduanya harus dilakukan secara seimbang. Saat kita telah yakin telah menemukan (calon) jodoh kita, baiknya jika jemput dengan perbuatan yang positif, tidak membuat kebodohan, dan harus diingat menjemput jodoh bukan dengan mengajaknya dengan cara berpacaran. 
Berikutnya, kita pun harus bersabar menunggu. Menunggu bukan hanya diam, tetapi kita harus menunggu dalam taat. Taat itu kata aktif, bukan pasif. Menunggu dalam taat adalah dimana kita menyibukan diri untuk meningkatkan kualitas diri kita. Karna pada hakikatnya, jodoh kita bukanlah “siapa dia”, “dimana dia”, dan “bagaimana dia”, tetapi “siapa saya”, “dimana (kualitas) saya”, dan “bagaimana saya”.

Allah membocorkan Rahasia tentang jodoh didalam surat An-nur Ayat 26 :

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Di ayat diatas Allah jelaskan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik begitu juga sebaliknya. Disini kita mendapatkan sebuah “clue”  kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita, ia sebagaimana diri kita. Jika kita shaleh, taat, suka membaca Al-quran, baik akhlak dan prilakunya Inshaa Allah akan pertemukan juga dengan orang yang seperti itu.

Setelah mengetahui ini, tentu kita sama-sama memahami, meyakini dan tentu juga mengamalkannya. Diharapkan setelah mengetahui hal ini bisa mengubah persepsi kita dalam memahami jodoh, yang pada mulanya mungkin fokus “pada siapa” jodohnya menjadi fokus “bagaimana pribadi saya” agar mendapatkan jodoh sesuai impian dan harapan saya.